Kamis, 09 Februari 2017

LARON MENCARI PASANGAN



 “Aku benci jadi dewasa”, protes Bow. Ia berjalan ke sudut liang yang di lantainya ada kubangan air. Ia menunduk, memandang bayangan wajahnya di kubangan, “Astaga, gemuk sekali diriku,” keluhnya sambil mencubit perutnya yang penuh lemak. Ia kemudian meraba punggungnya, ada sayap pendek halus yang tumbuh begitu cepat. 

Bow adalah seekor Rayap jantan yang sebentar lagi menjadi dewasa. Saat dewasa ia akan menjadi Laron. Di satu sisi ia suka nama itu, karena terdengar garang di telinga. Namun di sisi lain ia kurang suka, karena nama ‘Laron’ tidak sesuai dengan tubuhnya yang gemuk dan rupanya yang buruk. 

Bow kembali bersandar di liangnya. “Aku benci dewasa,” sungutnya lagi. Alasan Bow benci dewasa cukup banyak; Pertama, ia akan menjadi Rayap dewasa alias Laron. Kedua, kalau ia sudah menjadi Laron, maka ia harus kawin. Ketiga, kalau di malam kawin –yang waktunya nanti akan ditentukan oleh sang Raja- ia tidak mendapatkan pasangan, maka ia akan mati. 

Bow sudah memperkirakan bahwa peluang mati dirinya nanti di malam kawin akan lebih besar ketimbang peluang hidup. Alasannya; pertama, karena waktu yang ditentukan tidaklah banyak, hanya satu malam. Jika fajar sudah muncul di arah timur ia tidak juga menemukan pasangan, maka habislah riwayatnya. Kedua, yang paling parah adalah; ia tidak memiliki bentuk tubuh dan rupa yang bagus seperti Rayap-Rayap penjantan lainnya. Padahal ketampanan dan bentuk tubuh yang ideal adalah modal yang paling ampuh untuk memikat para betina.

***

Hari terus berlalu dan sayapnya sudah tumbuh semurna. Hari ini ia sudah resmi menjadi Laron dan nanti malam mereka –para Laron- akan dilepaskan ke luar sarang untuk mencari pasangan. Bow kembali berkaca pada kubangan air di liangnya, “Mengapa bentuk tubuhku tidak berubah, wajahku juga?,” Bow menggerundel dalam hati. 

Masih belum puas Bow dengan bayangan dirinya di kubangan, tiba-tiba suara takzim terdengar dari belakang, “Permisi Laron Bow.”

Bow membalikkan badan, seekor Rayap muda sedang berdiri di lobang liang miliknya. “Ada apa?,” tanya Bow.

“Saya hendak menyampaikan pesan dari sang Raja terkait dengan kegiatan malam kawin yang akan diadakan pada malam ini. Raja menghimbau kepada para Laron agar berkumpul sore nanti di aula kerajaan. Mungkin akan ada sedikit pengarahan dari sang Raja sebelum para Laron dilepas dari kerajaan.” Jelas Rayap muda.

Bow mengangguk. Ada pancaran kesedihan di wajahnya. “Terima kasih,” ucapnya lirih.

Rayap muda itu kembali bertugas, ia masuk ke liang-liang lainnya untuk melaporkan hal serupa kepada Laron-Laron yang ada di kerajaan.

Bow semakin gelisah, yang lebih ia khawatirkan sebenarnya bukanlah karena tidak ada betina yang mau kawin dengannya, melainkan karena kematian yang akan menghampirinya jika ia tidak kawin. Mengapa harus mati, pikirnya. Tidak adakah takdir lain, seperti patah kaki, putus antena, rusak rahang, atau kesakitan-kesakitan lain, asal jangan kematian yang datang. Kepalanya semakin pusing memikirkan kematian, akhirnya ia bersandar di dinding liang dan mencoba menutup mata. Untuk saat ini ia ingin tidur, melupakan segala kesuraman yang akan menantinya, bukankah tidur adalah cara terbaik untuk melupakan kesedihan?.

***

“Ehm....selamat datang rakyat baruku,” kata Raja di atas undakan tanah. Suaranya berat dan berwibawa. “Maksud dari rakyat baru adalah Laron-Laron. Bukankah dulu kalian adalah Rayap?, dan sekarang kalian berubah menjadi Laron. Kalian adalah makhluk pilihan, karena tidak semua Rayap yang akan menjadi Laron. Tapi kalian harus tau, setiap makhluk pilihan akan mengemban tugas pilihan juga, tugas yang tidak akan didapatkan oleh makhluk biasa. Aku rasa kalian sudah tau dengan tugas yang akan kalian dapatkan; yak betul, kalian akan mencari pasangan malam ini. Aku rasa kalian juga sudah tau resiko yang akan kalian hadapi bila kalian tidak bisa menjalankan tugas kalian; yak betul, kalian akan mati jika tidak mendapatkan pasangan. Oleh karena itu, aku menghimbau kepada para rakyatku yang istimewa ini; berusahalah sekuat mungkin untuk berhasil, karena masa depan Rayap ada di tangan kalian. Jika kalian gagal, maka kalian sudah mengecilkan populasi Rayap di dunia ini. Mungkin cukup disini nasehat dariku – Raja Degolan-. Sekarang berkemaslah, bersiap untuk pesta nanti malam!.”

Raja turun dari undakan. Laron-Laron bubar dari barisan, bergegas masuk ke liang masing-masing dan mulai berdandan untuk nanti malam. Namun Bow masih tak menunjukkan keceriaan, malahan ia semakin tampak bersedih karena waktu yang paling ia takutkan akan segera tiba.

Bow kembali ke sarang. Ia tak berdandan, karena percuma juga pikirnya. Sementara Laron-Laron lain sangat bersemangat menghias dan memperbagus diri; merapikan antena, membersihkan maksila dan mandibula, memotong kuku kaki, mengelap sayap agar lebih mengkilat, dan tak lupa menyemprotkan bau khas Laron di sekujur tubuh agar semakin memikat.

Bow ke luar sarang, melihat matahari terbenam. Ini mungkin matahari terakhir yang akan ia lihat. Sinarnya semakin redup seredup kebahagiaan di dalam hatinya.

Bow kembali ke dalam sarang. Para Laron sudah berbaris rapi. Laron-Laron jantan tampak gagah dan tampan, sedangkan yang betina tampak cantik dan menawan. Sementara Bow terlihat gemuk, buruk, kusut dan suram. 

Bow mencari barisan paling belakang, hampir semua pasang mata menjalar di tubuhnya, menyaksikan kelusuhan pada diri Bow. “Calon gagal,” kata Laron jantan dalam hati ketika melihat Bow. “Bukan pilihanku,” kata Betina dalam hati ketika melirik Bow. Bow terus berjalan dengan menunduk, ia tak memperdulikan tatapan dan lirikan yang tak bersahabat itu. Sesampainya di barisan paling belakang, ia memberanikan diri untuk membalas tatapan; ia mengangkat kepalanya, dengan cepat tatapan dan lirikan tak suka itu beralih ke tempat lain. 

Raja naik ke undakan. Ia melemparkan pandangan ke arah Laron-Laron, setelah ia merasa semuanya siap, ia kemudian melepas para Laron ke luar sarang untuk mencari pasangan. 

Ratusan Laron terbang ke luar sarang, berputar-putar memperlihatkan keindahan dan keahlian dalam mengudara. Melebarkan sayap, menebarkan aroma Laron untuk memikat. Ada beberapa Laron yang sudah mendapat pasangan. Mereka jatuh ke tanah, menanggalkan sayap, kawin dan membuat liang baru untuk telur-telur mereka nantinya. Bagi yang belum mendapat pasangan, maka mereka akan terbang lagi semakin jauh dari sarang, meliuk-liuk bagaikan peri dalam cerita dongeng.

Laron-Laron terbang bertebaran menjauhi sarang. Semakin jauh dan semakin bertebaran, maka semakin banyaklah tempat yang bisa mereka dapatkan untuk melanjutkan keturunan. Bahkan ada yang terbang sampai area perkampuangan. Beberapa Laron sempat berkelakukan romantis di dekat lampu penerangan; terbang sambil berpelukan, jatuh ke tanah, melepaskan sayap, kawin dan membuat sarang. 

SUMBER GAMBAR : deliaputrikesuma.blogspot.co.id


Di tengah kegembiraan itu, Bow masih terbang santai. Ia tidak meliuk-liukkan cara terbangnya karena badannya tidak mendukung untuk melakukan itu. Jika ia melakukan apa yang Laron jantan lain lakukan, mungkin ia akan jatuh ke tanah sebelum mendapatkan pasangan; diinjak kaki manusia atau dijadikan mainan oleh anak-anak kecil yang kurang hiburan. 

Malam semakin larut, banyak pasangan yang sudah mendapatkan pasangan dan kawin di dalam sarang kecil di dalam tanah. Sementara itu, Bow masih terbang. Ia tidak mencari pasangan, tapi menunggu pasangan yang tidak mendapatkan pasangan. Pekerjaan menunggu memang beresiko, karena sisa-sisa betina yang belum mendapatkan pasangan akan ketahuan bila waktu sudah hampir shubuh, sehingga waktu yang ia miliki hanya sedikit.

***

Ayam sudah banyak berkokok, lantunan ayat suci sudah mulai terdengar di  beberapa penjuru, para pedagang sayur sudah memulai kesibukan. Bow masih terbang mencari pasangan. Sayangnya, keadaan di atas udara sudah lengang, tak ada lagi Laron-Laron betina yang berkeliaran. Di bawah tanah, sayap-sayap Laron menumpuk seperti pakaian manusia yang dilepaskan ketika naik ke ranjang pelaminan.

Bow merasa harapannya sudah selesai, ajal sudah menunggangi tubuhnya. “Aku tak mau mati di tanah,” ucap Bow dalam hati. Ia mendarat di ventilasi pada sebuah rumah. Dilihatnya ke dalam rumah tersebut, ternyata ia berada di sebuah ventilasi kamar seorang gadis. Ia tahu karena di dalam kamar tersebut ada seorang gadis yang sedang duduk di sebuah kursi dan menyandarkan kepalanya pada meja belajar. 

Bow masuk ke dalam kamar, merayap di dinding dan singgah di atas lemari yang ada di samping meja belajar. Dari tempat tersebut Bow dapat melihat wajah sang gadis. Ia tampak bersedih, matanya bengkak, mungkin tidak tidur semalaman atau karena menangis semalaman. Di sampingnya ada smartphone yang menampilkan percakapan antara si gadis dan si cowok. Mungkin cowok itu adalah pacar sang gadis pikir Bow.

Bow mendekat ke arah layar smartphone. (Seekor Laron tentu saja bisa mengerti bahasa manusia. Manusia saja yang tidak mengerti bahasa Laron). Di layar itu tertulis;

“Dini, aku nggak bisa lagi melanjutkan hubungan ini” (Cowok)

“Maksud kamu?” (Cewek)
 
“Kita putus. Kamu udah beda, nggak kayak dulu lagi” (Cowok)

Hanya percakapan itu yang berhasil dibaca oleh Bow. Ia tak sempat melanjutkan percakapan selanjutnya. Tubuhnya ngilu, kepalanya serasa ditarik, perutnya seperti dikocok, ternyata ajal sudah menjemputnya. Bow melompa tepat di atas layar smartphonenya. Hal itu cukup menarik perhatian si gadis, sehingga ia memandangi Bow. Bow gemetaran, sayapnya tanggal. Sebelum ajal ia berkata lirih kepada si gadis, “Jangan menjadi Laron, yang mati di pagi hari karena tidak mendapatkan pasangan.” Setelah mengucapkan kata itu, Bow tak lagi bernyawa. Tentu saja sang gadis tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh Bow. 

Gadis itu memegang tubuh Bow dengan dua jarinya dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di bawah meja belajarnya. 

Gadis itu kembali ke meja belajarnya. Ia mencari-cari silet di sorongan meja. Setelah menemukannya, ia membuka bungkus silet tersebut dan menggoreskan benda tajam itu di pergelangan tangannya. Goresan itu mengeluarkan darah yang mengalir deras, merah dan kental. Gadis itu pergi menyusul Bow. 

Hari itu, seekor Laron dan seorang anak manusia merenggang nyawa karena tidak mendapatkan pasangan.





Share:

Sabtu, 12 November 2016

TEORI ANJING



Toy hanya bisa duduk di sebuah kursi sofa dan memandangi kami bertiga yang sedang bermain mobil-mobilan di ruang tamu rumahnya. Ibunya sibuk memilah daging dan tulang ikan, menyendoki dagingnya, kemudian menyuapkan sesendok nasi yang telah disirami gulai ikan ke mulut Toy. Kedua temanku serius bermain mobil-mobilan, sementara aku fokus kepada Toy dan ibunya.sebenarnya bukan kepada kedua orang itu, akan tetapi kepada nasi dan gulai ikan yang setiap beberapa detik sekali hinggap ke mulut Toy. Aku lapar karena belum makan siang. Kuah yang berwarna kuning dan beraroma kunyit serta seonggok ikan gembung sukses membuat ususku mengkerut dan berbunyi. Aku hanya bisa berfantasi seolah suapan itu juga masuk ke dalam mulutku.

Toy tidak ikut bermain karena ia hanya bisa duduk di kursi. Keadaannya tak memungkinkan ia untuk banyak bergerak. Luka di betis kanannya yang ia dapatkan sekitar dua minggu yang lalu masih belum begitu sembuh. Luka tiga sobekan dengan masing-masing dua jahitan itu tercipta akibat gigitan anjing kampung yang bernama Village Dog. Diantara kami berempat; aku, Toy, Uda, dan Ade, akulah yang paling merasa bersalah. Kesalahan ini tidak diketahui banyak orang, hanya kami bereempat yang tahu. Aku bersyukur Toy tidak membeberkan kesalahanku itu pada orang tuanya.

Kesalahan ini bermula ketika kami bosan bermain kelereng di halaman rumah Uda. Kami bosan karena kemenangan hanya dirasakan oleh Ade. Ia sangat lihai menjentikkan biji kaca itu sehingga ia mampu mengumpulkan banyak kelereng. Ade memiliki kelereng sebanyak satu ember cat berukuran besar. Kami bertiga; aku, Uda dan Toy selalu meminjam kelereng Ade disaat kalah. Hutang kami bertiga sudah menumpuk. Pembayaran hutang juga berbunga dua kali lipat. Misalkan aku meminjam lima kelereng, maka aku harus membayar sepuluh kelereng kepada Ade. Jumlah hutang kami bertiga sudah tidak terhitung lagi dengan jari tangan karena jari tangan kami hanya sepuluh. Aku berhutang 125 biji kelereng, Uda 80 kelereng dan Toy yang paling banyak yaitu 250 kelereng. Itupun belum dihitung dengan bunganya. 

Agar kerugian ini tidak terjadi dan dirasakan sampai anak cucu kami nantinya, kami bertiga; aku, Uda dan Toy berniat melakukan revolusi. Pelunasan hutang dan kecurangan yang parah tidak bisa lagi dirubah kecuali dengan revolusi. Untuk menyiasatinya, kami bertiga membuat konspirasi; yaitu menghentikan permainan kelereng dan menggantikannya dengan permainan lain atau keseruan lain. Siasat itu berhasil dan Ade pun mengalami kerugian besar. Kelereng yang ia kumpulkan tidak lagi berharga. Akhirnya ia melupakan hutang tersebut.

Untuk menghilangkan musim kelereng, kami bereksperimen dengan permainan-permainan baru. Awalnya kami mencoba bermain gambar, karena Ade melihat ada peluang untuk menjadi pemilik modal lagi di permainan ini, kami bertiga segera menghentikan permainan tersebut. Setelah itu, saat musim kemarau tiba, kami memutuskan untuk mengganti kebiasaan bermain sore dengan mandi di sungai. Di sungai kami bisa berenang, bermain kejar-kejaran di air, lomba menyelam paling lama dan membuat istana dari pasir hitam yang berlumpur. Tapi keseruan ini hanya berjalan empat hari, karena esoknya ditemukan anak kecil dari kampung sebelah tewas tenggelam di sungai tempat biasa kami bermain. Karena kejadian tersebut, anak-anak kecil termasuk kami bereempat tidak berani lagi bermain di sungai. Akhirnya kami mencari keseruan di sore hari dengan memancing kemarahan anjing di komplek perumahan warga Katolik.

Tidak semua anjing di komplek tersebut galak dan mau mengejar anak kecil seperti kami, sehingga kami harus mencoba dulu mana anjing yang galak dan mana yang tidak. Pertama kami mencoba dengan anjing kampung berwarna kuning, tubuhnya tidak terlalu besar bahkan terkesan kurus, tulang-tulangnya terlihat timbul di beberapa bagian badannya. Kami memancing kemarahannya dengan berbagai cara. Uda melempari anjing tersebut dengan batu kerikil berukuran kecil, anjing itu tidak peduli. Ade melemparinya dengan kelereng, anjing itu hanya berpindah tempat. Toy menyalak-nyalak sambil menghadapkan pantatnya ke arah anjing tersebut, kemudian menepuk-nepuk pantatnya, anjing tersebut sama sekali tak bernafsu melihatnya. Aku berlari beberapa langkah ke depan kemudian mundur lagi beberapa langkah ke belakang seperti pendemo yang takut-takut berani menghadapi polisi, anjing itu hanya menjilat kakinya. Kesimpulannya, anjing ini tidak bisa diajak bermain.

Kami mencari anjing lain. Kami menelusuri gang lainnya yang ada di komplek tersebut. Pucuk dicita ulam pun tiba, kami menemukan anjing lain. Anjing itu berbaring santai di pinggir jalan, warnanya hitam dan badannya agak gemuk. Kami mulai beraksi memancing kemarahan anjing tersebut dengan cara sebelumnya; melempari dengan batu, menyalak meniru anjing, menepuk-nepuk pantat dan berlari maju mundur. Anjing itu bereaksi, dia ikut menyalak. Melihat reaksi itu, kami semakin bersemangat, kami melompat-melompat seperti kera saat musim kawin. Anjing itu menyalak lebih cepat dan lebih keras hingga akhirnya berdiri dan berjalan beberapa langkah ke arah kami. Kami berempat sudah memasang kuda-kuda untuk berlari menjauhi anjing, tak lupa sendal jepit kami selipkan diantara jari-jemari tangan kami masing-masing.

Usaha kami berbuah hasil, anjing itu akhirnya memanas dan mengejar kami bereempat. Diantara kami bereempat, lari yang paling cepat dipegang oleh Uda, kedua Ade, ketiga aku dan keempat Toy. Sayangnya aku tidak ingin berlari terlalu cepat karena aku tau bagaimana caranya membuat anjing takut. Trik ini digunakan oleh orang pada umumnya ketika mereka dikejar anjing atau menemukan anjing yang galak. Trik itu adalah duduk, berpura-pura mengambil batu dan berpura-pura melempar, padahal tidak ada satu batupun yang kau pegang. Trik ini mengajarkan kita untuk bersikap berani walau sebenarnya keberanian yang kita punya hanyalah keberanian yang konyol. Sungguh pelajaran yang bagus. Dan saat ini aku ingin mencoba trik tersebut. 

Aku memperlambat lariku, kulihat temanku yang lainnya semakin menjauh dan mempercepat larinya. Aku berhenti dan membalikkan badan, aku melihat anjing itu masih berlari mengejar. Segera aku berpura-pura duduk dan menempelkan tangan kananku ke tanah seolah sedang meraih batu. Anjing itu mengeremkan kakinya ke tanah sampai tanah itu berdebu. Ia melihatku dengan tatapan tajam. Kami berdua seperti dua orang koboy yang saling berhadapan sebelum akhirnya menembakkan revolver ke arah lawan. Anjing itu menggeram, raut wajahnya terik, matanya menyipit, mulutnya sedikit terangkat ke atas memperlihatkan gigi taringnya yang tajam dan kuning, sejak lahir tak pernah sikat gigi. Ia menyalak, aku sedikit gugup, keberanianku sedikit demi sedikit mulai luntur. Ia memasang kuda-kuda untuk mulai mengejarku kembali. Ketika ia mulai berlari lagi ke arahku, aku mengeluarkan jurus andalan; yaitu berpura-pura melempar batu. Sayangnya nyali anjing itu tidak ciut sedikitpun. Akhirnya aku benar-benar ingin meraih batu dan melemparnya, sayangnya batu yang ada di jalan tersebut tertanam cukup dalam. Aku pun mengganti plan A dengan plan B; yaitu berlari sekencang-kencangnya. 

Pada saat mulai berlari kembali, jarak aku dan anjing tidak jauh, paling hanya delapan meter saja. Tentu saja dengan jarak seperti itu, anjing itu sangat mudah mendekatiku. Jarakku dan jarakknya semakin dekat hingga akhirnya ia berlari di sampingku sambil menyalak. Di depan -sekitar tigapuluh meter- aku bisa melihat ketiga temanku. Mereka bersorak agar aku mempercepat lariku. Sayangnya anjing tersebut sudah mendahuluiku. Ia langsung mengambil alih posisi, aku dibelakang dan dia di depan. Aku berhenti, dia pun berhenti tapi masih menyalak. Dia mengelilingiku dan terus menyalak. Keringatku bercucuran, mukaku mungkin pucat, aku pasrah. Setelah beberapa kali ia mengelilingiku aku pun heran, mengapa ia tak juga menggigitku?. Dari sini aku berpikir bahwa anjing itu tau maksudku yang hanya ingin mengajaknya bermain. Oleh karenanya, diapun hanya bermain dan tidak ingin menggigitku apalagi membunuhku. Aku berkesimpulan bahwa anjing bisa membaca pikiran manusia. 

sumber gambar : news.okezone.com


Denga teoriku yang barusan ku temukan itu, aku mencoba bereksperimen. Aku berpikir untuk memukulnya, mengusirnya dan bila perlu menyiksanya. Dia berhenti menyalak seperti tau apa yang ada di dalam pikiranku. Aku tercengang, ternyata teoriku berhasil. Aku melihat ada sebatang kayu di samping jalan. Dengan gerak perlahan, aku melangkahkan kakiku ke arah kayu tersebut. Aku meraih kayu tersebut, tentu saja dengan pikiran ingin membunuhnya. Ia diam dan kemudian lari tunggang-langgang menyalak penuh ketakutan. “Tolong-tolong”, kurang lebih itulah terjemahan dari gonggongannya. Aku mengangkat kayu dan berteriak penuh kemenangan. 

Ketiga temanku mendatangiku dan menepuk pundakku. Mereka memuji kehebatanku dalam menjinakkan anjing kampung yang galak tersebut. Mereka mengajakku untuk kembali memanasi anjing tersebut. Tapi aku mencegahnya, karena hari sudah petang. Akhirnya kami bereempat pulang dan keesokan harinya kuceritakan teoriku tadi kepada mereka; bahwa anjing bisa membaca pikiran kita. Kalau kita berani, anjing akan takut. Kalau kita ingin mengajaknya main, dia akan bermain. 

Esoknya aku tidak bisa mengikuti teman-temanku bermain-main dengan anjing karena aku harus membantu ibu memanen jeruk sambal di halaman rumahku. Tanpa kehadiranku, mereka tetap pergi ke tempat anjing tersebut. Aku mengingatkan mereka tentang teoriku itu.

“Ingat!!!, anjing bisa membaca pikiran manusia”, kataku mengingatkan.

Mereka mengangguk paham.

Malamnya aku mendapatkan kabar dari ibuku bahwa betis Toy digigit anjing kampung. Ia dibawa ke mantri desa. Ibu mengatakan kalau lukanya parah sekali, sampai dijahit. Saat itulah aku merasa bersalah karena telah melahirkan teori anjing.

***

Saat aku melihat Toy disuap oleh ibunya dan mereka tidak peduli denganku yang kelaparan ini, aku berkesimpulan bahwa manusia tidak bisa membaca pikiran manusia. 

Semoga saja Toy bisa membantah teoriku lagi.

Share:

Jumat, 30 September 2016

KANTIN DAN WANITA (catatan mahasiswa belum wisuda)



“Boy, boy, biru boy, biru”, ucap Ian setengah berbisik sambil menyikut lenganku. Biru hanyalah kode saja, sebenarnya yang terjadi adalah; wanita berbaju biru sedang berjalan ke arah kantin, tempat kami sedang berkumpul.

Aku dan Eri menoleh ke arah wanita tersebut. Aku tak berani memandang serius, hanya sekilas pandang saja. Tetapi Eri lumayan berani memandang serius, detail dari kepala sampai telapak kaki.

Asid ikut memandang sambil melahap gorengan tahu isi. Asid sama seperti aku, ia tak memandang serius, hanya sekilas sambil melanjutkan santapan. Kami berdua memang pria yang jaim (jaga iman).

Wanita itu bersama kedua temannya mulai mendekati kantin, berjalan perlahan seperti tuan puteri yang didampingi oleh dayang-dayangnya. Ia berjalan begitu anggun dan berwibawa, daun-daun berguguran menambah momen kepermaisuriannya. Semoga saja tidak ada ranting yang jatuh, apalagi kotoran burung, tentu saja hal itu bisa memperburuk suasana.

Setelah lima abad berjalan, barulah ia bersama kedua dayangnya sampai ke kantin. Lima abad hanyalah majas, sindiran karena lamanya mereka berjalan. Cewek memang begitu kali ya?. Jalannya diperlambat sedikit biar terlihat anggun. 

Kembali ke wanita berbaju biru tadi, setibanya di kantin, ia dan kedua dayangnya mencari tempat duduk. Mereka memandang ke berbagai arah dan tak menemukan tempat duduk yang cukup untuk mereka bertiga. Sebenarnya ada beberapa bangku yang kosong, tapi hanya cukup untuk satu orang saja, tidak mungkinkan mereka duduk berpangku?, memangnya ini bus umum. Aku sempat mengira mereka akan menggelar koran dan duduk lesehan sambil menyodorkan gelas aqua (mengemis). Ternyata tidak, itu hanya imajinasi humorku saja.

Kebetulan sekali, tiga mahasiswa -yang sudah sejak lama nongkrong- beranjak dari tempat duduknya. Aku berspekulasi bahwa ketiga mahasiswa itu sudah lama sekali duduk di tempat itu. Lihatlah!, tiga gelas yang ada di atas meja sudah kosong, batu es pun sudah mencair, bahkan laba-laba sudah beranak pinak di gelas tersebut. Ketiga wanita itu menggantikan posisi mahasiswa yang baru saja beranjak meninggalkan tempat duduknya. 

“Hangat sekali tempat duduknya”, kata dayang A. 

“Berarti dia cemburuan”, kata dayang B. 

Wanita berbaju biru tidak merespon ucapan kedua dayang yang ada di depannya, ia menjaga betul kewibawaannya. 

Aku, Eri, Ian dan Asid sesekali menoleh ke arah wanita berbaju biru. Cantiknya luar biasa, mungkin itu yang ada di dalam hati kami bereempat. Atau mungkin Asid memandang ke arah dayang A, maklumlah, Asid memang punya selera tersendiri. Dayang A memang tidak terlalu jelek, aku bahkan tidak berhak menilai hal tersebut karena bagaimanapun dia ciptaan Tuhan juga. Bila aku menghinanya, sama juga aku menghina Tuhan. Mengapa aku jadi ceramah begini?.

Kembali ke dayang A. Apakah kalian ingin mendengarkan penjelasanku tentang bagaimana rupa dayang A?. Dayang A menggunakan baju merah, berjilbab ungu, dan mengenakan rok hijau, kalau dia berdiri di tepi jalan, orang pasti mengira dia adalah umbul-umbul tujuh belasan. Wajahnya bulat, hidungnya berbentuk jambu. Keringat selalu mengucur dari keningnya, ini adalah tanda-tanda orang yang sebentar lagi didatangi malaikat pencabut nyawa. Kalau tidak percaya, baca saja di internet!.

Aku tau betul siapa Asid, dalam hal menilai wanita dia tidak melihat rupa, tidak melihat penampilan dan tidak melihat harta serta keturunan, akan tetapi dia melihat apa yang ada di dada manusia. Sungguh langka orang seperti Asid ini. Dayang A mungkin adalah tipe wanita yang diidam-idamkannya sejak lama, sejak ia rajin membaca novel Habiburrahman.

“Nampaknya dayang B cantek juga”, kata Eri.

Amboy, apa indikator kecantikan dayang B Ri?, bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Kalian mau tau bagaimana rupa dayang B?. Dayang B mengenakan sepatu karet, semacam sendal tapi seperti sepatu. Ada banyak lobang-lobang kecil di sepatu tersebut, mungkin lobang kecil itu adalah semacam sirkulasi udara, tempat jempol kaki bernafas. Sepatu itu kalau didiamkan di bawah garis khatulistiwa saat tengah hari; maka dia akan meleleh. Selain itu, selera dayang B juga aneh, dia memesan cappucino dingin, aneh nggak itu?. Selain itu, tasnya, coba lihat tasnya!, eh mana tasnya?, perasaan tadi ada. Sudahlah lupakan tasnya. 

SUMBER GAMBAR: MANG-ODOY.BLOGSPOT.COM


O ya, kita menilai kecantikan bukan kemapanan atau penampilan. Kecantikan identik dengan wajah seseorang, tak peduli dia pincang atau tak punya tangan, yang penting adalah wajah. Kalau wajah cantik, maka cantiklah ia. Lihatlah wajah dayang A!, aku tidak bisa melihat wajahnya, pandanganku dihalangi oleh dua mahasiswa berbadan besar yang ada di dekatnya. Tapi aku masih bisa melihat sedikit, bibirnya, ya bibirnya saja yang kelihatan kalau dilihat dari samping. 

“Tapi masih canteklah yang baju biru boy”, kata Ian menimpali.

Wanita berbaju biru memang cantik. Parasnya mirip Awkarin, pipinya kemerah-merahan, harum bedaknya tercium sampai jarak 10 mil, mungkin dia menggunakan bedak herocin atau caladine. Barusan aku baca di internet, katanya caladine dapat menghilangkan bekas jerawat, mungkin sebab itulah wanita berbaju biru itu wajanhya mulus dan licin. Apabila lalat hinggap di wajahnya, maka lalat tersebut akan terpeleset dan masuk ke dalam cangkir. Apabila lalat itu masuk ke dalam cangkir, maka wanita berbaju biru itu cukup mencelupkan kedua sayap lalat tersebut ke dalam air agar air tersebut tidak beracun.

Mata wanita berbaju biru itu besar. Yang kumaksudkan besar bukan sebesar mata sapi atau mata dinosaurus. Yang kumaksud besar disini adalah,,,ya besar untuk seukuran manusia. Seperti mata artis korea; Song Hye Kyo. Senyumnya,,, aduh manis sekali, tapi seperti ditahan-tahan, begitupula saat tertawa, mulutnya ditutup. Mungkin dia tidak mau lalat masuk ke dalam mulutnya saat tertawa dan tersenyum. Tapi...plas,,,mulutnya terbuka dan aduh, giginya ompong. Aku menghentakkan tangan ke meja, "PRAKKK"

“Ngape boy?”, kata Eri, Ian dan Asid.

“Ndak”, aku berusaha menenangkan diri dan menenangkan ketiga temanku.

Detik jam terus berbunyi. Batu es mulai mencair. Mereka bertiga -Ian, Eri, dan Asid- masih menikmati ketiga wanita tersebut. Asid menikmati apa yang ada di dada dayang A. Eri menikmati sepatu dayang B. Dan Ian masih tidak tahu apa yang ada di balik senyum manis wanita berbaju biru.

Ah biarlah mereka bertiga menikmati wanitanya masing-masing dan aku menikmati nasi gorengku ini.

"Kok telur dadarnya mirip mantan?", aku menghempaskan tangan ke meja untuk yang kedua kalinya.
Share: