Kamis, 24 Desember 2015

BELAJAR DARI SULAP



Sejak kecil aku tertarik dengan dunia sulap. Sering sekali sehabis pulang dari sekolah waktu SD ada pertunjukkan sulap di pasar. Masih dengan pakaian putih merah, aku langsung menuju ke arah tenda yang di kerumuni banyak orang dimana tempat pertunjukan aksi sulap itu diadakan. Rela berdesak-desakkan dengan orang dewasa, menyelip diantara kerumunan dan mengambil posisi paling depan. Walau pertunjukkan sulapnya sangat tradisional dan diselingi dengan jual obat, pertunjukkan itu cukup menginspirasiku.

Si magician alias penjual obat pernah memainkan suatu permainan yang membuat ku penasaran. Ia bermain dengan dua buah gelas dan satu bola pimpong. Permainan itu ia lakukan di atas meja kecil atau lebih tepatnya sebuah kotak balok dari kayu. Bola pimpong ditutup dengan salah satu gelas, kemudian satu gelas lagi disimpan disampingnya dengan jarak yang agak jauh dari gelas yang berisi bola pimpong. Dengan komat-kamit jampi-jampi, bola pimpong bisa berpindah ke gelas yang satunya, tanpa kecepatan tangan apalagi dipindahkan secara manual. Ia tidak membongkar triknya, tapi aku menyimpulkannya bahwa kuncinya adalah percaya diri.

Permainan seperti itu ku coba dirumah. Kuambil gelas plastik di dapur dengan warna yang gelap biar bola pimpong gak nampak. Dua gelas sudah disiapkan lengkap dengan bola pimpongnya. Ku simpan bola pimpong di salah satu gelas, dan gelas satunya lagi kusimpan dengan jarak yang berjauhan persis seperti yang pesulap pasar tadi lakukan. Dengan penuh keyakinan disertai dengan do’a-do’a gak jelas, ku tiupkan pada gelas yang berisi bola pimpong. Dengan penuh keyakinan dan percaya diri aku merasa bola pimpong itu sudah berpindah ke gelas yang lain. kudekati gelas itu dan ternyata posisinya masih tetap sama. Bola pimpongnya bahkan terlihat kecewa dengan tingkah laku ku yang absurd itu..hahahahha.

Agak usia ke atas sedikit dengan pola pikir yang udah lumayan, aku mencoba mendalami lagi dunia sulap ini. tepatnya waktu SMA dengan fasilitas internet yang sudah mulai mewabah, ku manfaatkan untuk browsing mengenai trik-trik sulap sederhana. Baru beberapa hari belajar dari internet, aku sudah mulai memberanikan diri untuk tampil di sebuah acara di sekolah. Satu hari penuh menyiapkan peralatan-peralatan handmade nya dan ternyata gagal tampil, karena ada seorang pesulap yang lebih mahir tampil juga di acara tersebut dan menghabisi seluruh waktu acara. Tidak tanggung-tanggung, pesulap tersebut juga mengisi acara dengan hipnotis yang menghibur. Dalam hati aku ingin berujar “syukur tidak tampil, kalau tampil bisa dilempar pakai kursi plastik ni, soalnya ada pesulap yang lebih profesional lagi”.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga buatku untuk terus belajar lagi. Ku browsing-browsing tentang trik sulap, dan akhirnya ketemu dengan toko sulap online. Di situs itu aku melihat ratusan trik-trik sulap plus alat-alatnya sekaligus dengan harga puluhan ribu sampe puluhan juta. Bahkan alat-alat sulap itu juga pernah dimainkan oleh pesulap-pesulap pro di Televisi.
Tanpa pikir panjang, alat-alat itu ku pesan, ku pelajari dvd nya, dan kadang kupraktekkan dengan teman-teman. Hingga akhirnya dunia sulap mulai kudalami waktu itu. Tibalah saatnya, pada saat praktek kesenian diadakan sebuah pertunjukkan-pertunjukkan untuk mengambil nilai ujian. Perkusi ditampilkan, drama ditampilkan, puisi ditampilkan dan aku menjadi yang lain sendiri karena aku menampilkan sulap, walau dengan penampilan yang tidak memuaskan, tapi itu awal kalinya aku mempertunjukkan hobi SD di depan orang-orang ramai.

Waktu terus berlalu, selesailah masa SMA dan masuklah masa kuliah. Di Pontianak aku bergabung dengan komunitas anak sulap. Dengan mereka aku belajar sulap yang triknya bahkan tidak ada di jual di toko sulap langganan ku. Di situ kita berbagi dan sharing mengenai dunia sulap. Di komunitas ini aku belajar untuk street magic alias sulap di jalanan, di taman, di cafe, di mana saja selain di panggung. Selama bergabung dengan komunitas ini aku serasa menjadi sangat-sangat bisa walau tentu saja masih banyak kekurangan, tetapi setidaknya udah lumayan dan gak absurd kayak SD dulu lagi.

Setelah sekitar satu tahun bergabung dengan sering gathering bareng. Aku memutuskan untuk meninggalkan dunia sulap dan tidak lagi berhubung dengan dunia itu. Alasannya simpel waktu itu, “fokus kuliah kubilang”.

Nah itulah cerita tentang sulap dan rasa penasaranku waktu SD yang akhrinya terpecahkan. Ternyata semua keajaiban yang pernah para magician mainkan itu ada triknya termasuk trik yang telah dilakukan oleh pesulap pasar yang dimainkan waktu aku SD dulu.

Kawan-kawan sering bilang bahwa sulap itu nipu. Itulah respon mereka ketika beberapa kali aku tunjukkan permainan sulap dihadapan mereka. walaupun respon mereka seperti itu, tapi aku tau bahwa mereka menyimpan rasa penasaran yang mendalam dan bertanya dalam hati “kok bisa?”.

Tapi dari sulap aku belajar sesuatu. Bahwa untuk menghibur seseorang terkadang apa yang dilakukan si penghibur adalah berbohong. Pesulap salah satunya, dia memainkan sesuatu efek yang membuat orang takjub, terpukau, heran dan bahkan tertawa atau terhibur, tapi di balik itu, tangannya lincah bermain untuk melarikan suatu benda atau dengan mengalihkan perhatian orang lain sehingga tidak sadar bahwa ada satu momen pesulap memanipulasi permainannya.

Itu hanya salah satunya. Contoh yang lain apa?, contoh yang lain adalah komedian. Dalam pertunjukkan komedi orang sering tertawa, tapi kalau kita mau jujur, banyak isi komedi itu sesuatu yang gak masuk akal yang tandanya itu hanyalah bualan saja sehingga orang menganggap itu lucu.

Contoh lain lagi film atau drama. Orang kalau nonton film itu intinya lebih sering pengen cari hiburan. Ke bioskop karena pengen terhibur, beli dvd karena perlu hiburan, bahkan ngeyoutube karena ada waktu senggang dan pengen ngehibur diri. Semua film ada skenarionya, ada sutradaranya, ada pemerannya, dan terakhir pasti ada filmnya sehingga disebut film. Itu semua bukti bahwa film adalh dibuat-dibuat dan di perindah agar menghibur, entah dengan sedihnya atau bahagiannya ending film, yang penting udah memberi kamu sesuatu yang kita bilang hiburan.

Kehidupan itu gak jauh kayak sulap tadi. Dia menghibur, tapi menipu. Semuanya terasa enjoy untuk dinikmati tapi semuanya juga bersifat sementara. Steve job selama hidupnya mungkin kaya luar biasa, tapi apakah setelah tidak hidup dia masih tetap kaya? Tentu tidak. Hidup tu kayak gitu, pada saat hidup aja buat kita terhibur, tapi setelah itu atau dibalik itu ia bohong dengan kita. dia bilang semua akan baik-baik saja, tapi di balik itu ada sesuatu yang sangat tidak baik-baik saja.

Dari sulap aku belajar bahwa hidup itu sama kayak sulap, dia mengibur tapi berbohong pada kita, kita terhibur tapi kita dibohongi. Boleh terhibur dengan sulap, tapi jangan percaya kalau sulap itu bisa seperti itu, itu hanya trik saja. Gitu juga hidup, boleh terhibur dengan hidup anda, karir anda, kesuksesan anda tapi jangan percaya bahwa itu beneran, semua akan berakhir, semua akan sirna, karena hidup itu hanya trik, sama kayak sulap. Boleh terhibur tapi jangan tertipu.

Share:

Rabu, 23 Desember 2015

PAGI MENJELANG AKHIR TAHUN



Awal tahun 2015, menjadi awal yang cukup buruk buatku. Aku harus bertemu seseorang yang sebenarnya tidak ingin kutemui. Karena itu sudah berlalu, maka pertemuan itu ku anggap takdir. Berjalan dengan orang yang baru kutemui ini bisa dibilang menjadi penyebab hancurnya pondasi yang telah kubangun.

Di pertengahan tahun, orang itu sudah pergi dan tidak bersamaku lagi. Entah siapa lagi orang yang dicarinya, aku tidak peduli. Keadaan yang sudah berantakan ini membuat ku meratap, dan bertanya, “apakah aku mampu untuk membangun pondasi ini kembali?, apakah aku mampu menjadi diriku yang dulu?”.

Aku sudah merasa kehilangan arah, aku sudah merasa tidak punya tujuan, aku sudah merasa kaki ini tak mampu untuk berbalik arah ke jalan yang dulu. Perlu waktu lama untuk memperbaiki kesalahan ini, perlu waktu lama untuk memperbaiki emosi ini, dan perlu waktu yang lama untuk menyadarkan raga ini, bahwa aku harus kembali.

Aku merasa berada diantara dua persimpangan. Di satu jalan aku melihat orang-orang bahagia dengan kesuksesannya. Tapi aku melihat di ujung jalan orang itu ada jurang dan kobaran api. Aku tidak ingin bersama mereka, tapi jalan itu dipilih banyak orang dan semua mengajakku untuk bersama mereka, bahkan dipaksa. Di satu jalannya lagi aku melihat orang melarat, stress, sedih, karena jalan yang ditempuh mereka tidak mudah, namun aku melihat di ujung jalan mereka ada kebun nan indah, sejuk dan tempat yang layak. Mereka mengajakku juga, tapi tidak memaksa.

Idealis, aku ingin punya tujuan yang indah, tapi realistis, aku tidak mampu jika tidak bersama mereka yang punya kehidupan layak walau tujuan yang buram dan tak menjanjikan.  Sayangnya sifat manusia selalu begini, susah untuk melihat sesuatu di balik dinding. Yang dikejar hanya sesuatu yang ada di lihat mata. Namun untungnya manusia diberi mata di dalam hati, agar ia bisa melihat jauh dari apa yang ia bisa lihat. Sayangnya lagi, tak semua orang bisa menggunakan hati mereka untuk melihat, termasuk aku.

Sekarang sudah berada di akhir tahun. Aku rasa cukup untuk membenahi emosi ini, aku rasa cukup untuk membiarkan jiwa ini beristirahat, dan aku rasa cukup untuk berlama-lama berada di persimpangan jalan. Tahun 2015 akan segera berlalu dan tahun 2016 akan segera datang. Aku tak ingin di awal tahun nanti semuanya masih terlihat sama. Harus ada sesuatu yang baru dan harus ada pilihan yang akan dituju.

Jika aku masih punya waktu, mengapa tidak. Jika aku masih punya hari, mengapa tidak. Jika dunia masih memberiku tempat, mengapa tidak. Jika matahari masih memberi cahaya, mengapa tidak. Dan jika Tuhan masih mengatur semuanya, mengapa tidak. Bangkit walau harus jatuh lagi, belajar walau lelah, membangun walau runtuh, dan berubah walaupun aku tau suatu saat nanti aku masih begini, setidaknya aku sudah berusaha.

-Pagi menjelang akhir tahun-

Share:

Minggu, 01 November 2015

refleksi cinta yang fana



Awal november yang penuh berkah,,,diawali dengan turun hujan yang terus turun dari subuh hingga sore hari,,,hawa dinginnya masih terasa hingga malam harinya...hujan ini menjadi pelepas duka setelah beberapa hari belakangan kota ini diselimuti oleh kabut asap yang tiada kunjung menghilang dari udara.

Dinginnya hawa bersambung menjadi dinginnya hati yang sudah sangat lama tidak tersentuh oleh hangatnya sebuah cinta fana. Kurang lebih 7 bulan yang lalu aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskannya. Bukan karena tidak cinta atau buruknya hubungan yang dijalani. Tapi karena hati ini tidak bisa berbohong untuk segenap dosa yang terus berjalan seiring kebersamaanku dengannya.

Aku sadar betul langkah kaki ini berada pada sebuah pijakan yang dapat menjatuhkan ku kepada murkaNya, tapi hasrat juga tidak dapat ditahan ketika hati ini memang perlu seseorang yang bisa lebih dekat untuk bersama. Sebuah keputusan yang sudah dibulatkan akhirnya lepas dengan kata yang terucap yaitu “kita putus”.

Seperti malam ini, saat itu suasana dingin sehabis turun hujan juga menyelinap ke setiap kulit tubuh. tetes air mata di kedinginan malam pun tidak dapat ditahan dari kedua mata gadis itu. Sambil menggenggam tangan untuk keterakhir kalinya ia berusaha untuk tegar dengan keputusan yang kuberikan.

Malam itu menjadi malam terakhir, dan saat itu pula aku harus mengatakan kepada Tuhan bahwa aku sudah menjalankan apa yang diinginkanNya, yaitu tidak menjalani hubungan tanpa persetujuanNya.

Pikiran tentangnya belum hilang semudah aku mengatakan “putus” pada malam itu. Setiap hari selalu saja ada lintasan tentangnya yang membuat aku harus melihat keadaannya. Sekitar 3 bulan setelah itu, temanku mengatakan kalau ia melihat gadis itu sudah berjalan dengan orang lain. Segera kata-kata itu ingin kubuktikan dengan kenyataan yang sebenarnya. Dan ternyata berita itu benar adanya. Dia sudah memilih seseorang untuk menjadi penggantiku.

Sakit hati bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya. Aku tak tau mengapa rasa sakit itu ada dan aku belum bisa merelakannya padahal telah jelas dia tidak memikirkan ku lagi dengan adanya seseorang yang bisa ia terima secepat itu untuk mengisi kekosongan pada dirinya. Tapi ya sudahlah.

7 bulan berlalu, rasa itu sedikit demi sedikit pudar dan hilang bersama kenangan yang tak ingin ku bawa dala hidupku. Saat putus aku sudah sadar dan paham bahwa aku hanya perlu waktu untuk melupakan seseorang. walaupun di awal sedikit lelah dengan keadaan yang ada, tapi di akhir aku bisa berjalan lagi dengan tanpa ada satupun rasa kehilangan dari dirinya.

Tulisan ini bukan untuk mengingatnya, tapi tulisan ini untuk menambah rasa tegarku bahwa saat ini aku sudah lepas dan mampu bangkit walau tentangnya ku tulis di dalam blog ini. keputusanku saat itu tidak ku sesali tapi malah kusyukuri, karena aku tidak memilih seseorang yang dengan semudah itu bisa pindah ke tempat yang lebih baik tanpa rasa sedih atas tempat yang lama. Aku juga menjadi sadar bahwa cinta yang ada pada dirinya hanyalah potongan cinta yang rapuh.

Saat ini, sendiri adalah menjadi pilihan. tidak mudah untuk menggenggam cinta yang baru lagi, walau ada potongan memori lama yang tersimpan dan belum bisa kulupakan walau dengan waktu yang kupunya. Aku rasa ia adalah teman terakhir untuk hidup ini. ketika ia menjaga dirinya, maka seharusnya aku juga menjaga diriku.

Tapi itu hanya sebuah harapan dan prasangka tanpa bukti. Pikiranku tentangnya belum tentu sama dengan pikirannya tentangku. Hidup ini masih bebas, ia bisa pergi dengan siapa saja yang ia mau dan aku tak bisa memaksanya.

Untuk saat inilah aku hanya percaya pada takdir dari yang diatas. karena ku sadar, aku tak mampu berbuat banyak untuk mendapatkannya. Dan aku sadar diri ini bukanlah siapa-siapa yang punya segalanya untuk diberikan. Untuk akhirnya, aku sepedapat dengan pepatah yang mengatakan bahwa “cinta itu bukan tentang menerima melainkan memberi”. Maka aku akan menunggu orang yang punya cinta untuk memberi dan aku pun akan memberi apa yang aku punya, saling memberi bukan saling berharap untuk menerima.
Share:

Sabtu, 24 Oktober 2015

PERUBAHAN



21 tahun adalah usia yang sudah bukan usia kecil lagi bagiku. Aku masih ingat sekitar belasan tahun yang lalu, tepatnya ketika aku masih berada di bangku sekolah dasar. Aku punya banyak keceriaan, tertawa tanpa beban, bermain tanpa rasa lelah, hujan-hujanan dan kotor-kotoran di lumpur yang tergenang, panas-panasan untuk bermain bola di lapangan,kejar-kejaran dan tangkap-tangkapan bersama teman , dan masih banyak hal lain yang membuat aku tak pernah sabar untuk menunggu hari esok. 

Pada masa itu, teman adalah orang terbaik yang membuat kaki mungil ini terus berlari. Mereka adalah orang terindah yang membuat badan kurus ini tak pernah diam. Mereka juga orang terhebat yang membuat hati dan pikiran terus merasakan keceriaan hari demi harinya.
Siang adalah waktu yang paling tepat untuk membuka pintu secara diam-diam demi untuk bermain dengan teman di luar rumah. Terkadang ibu dan ayah bangun dan menegur ku untuk tidak keluar rumah, karena jam siang adalah waktu untuk istirahat katanya. Tapi bagi anak kecil seperti ku, siang adalah waktu yang jangan sampai terlewatkan dari bermain dan berkumpul bersama teman.

Di masa itu, Perkelahian, percekcokan, tidak teguran bahkan permusuhan dengan teman memang kerap terjadi, tapi rangkulan tangan, duduk bersama, saling tertawa adalah lebih terasa dari hanya sebuah pertengkaran. 

Selain bermain di luar, aku juga suka untuk menjadi orang yang bercita-cita. Aku masih ingat dengan cita-cita anehku sewaktu kecil. Jadi supir bis,,,ya supir bis, entah apa yang ada di pikiran ku waktu kecil,sehingga supir bis menjadi impian terindahku waktu itu. Untuk merealisasikannya aku sering membeli mobil bis mainan hasil dari rengekkanku dengan sang ibu. Ku hias bis mainanku, terkadang kucuci dan kubersihkan jika ia kotor atau berdebu, dan setiap habis memainkannya selalu kuparkirkan ia di tempat-tempat fantasi yang terlihat seperti terminal bis. Selain bermain bis mainan, aku juga sering menggambarkannya di buku pelajaranku, ku gambar bis-bis berbaris di sebuah jalan raya dengan background gunung dan hutan di belakangnya.

Ternyata masa kecil juga penuh dengan kreativitas tanpa batas. Sering kuambil bambu dan kayu libut di belakang rumah, ku gergaji dangan tangan kecilku, kuikat dengan getah gelang sampai peluh ku membasahi baju ku yang longgar, namun semua lelah itu terbayarkan dengan mobil mainan, lalu kumainkan di samping rumah di bawah pohon rambutan. Selain mobil, aku juga pernah membuat kapal mainan masih dengan bahan yang sama yaitu kayu libut, ku buat banyak-banyak lalu ku jejerkan kapal-kapal itu di sebuah parit di samping rumah. Ku ikat dengan tali kapal-kapal yang ada lalu ku tarik dan ku bawa ia menyusuri parit sejauh yang aku mampu.

Di masa itu juga aku menjadi penyayang binatang,,,yang aku rasa sih. Kucing tak terhitung berapa banyaknya, selalu ku ajak mereka bermain dengan seuatas tali dan kupancing mereka untuk mengikuti tali yang kubawa, aku serasa menjadi pawang sirkus waktu itu. Selain kucing, aku juga suka memelihara ikan. Di terik panasnya siang sehabis pulang sekolah aku sudah menerjunkan badanku ke parit di samping rumah sambil membawa saok (alat penangkap ikan) dengan jaring berwarna biru. Jika aku sudah merasa tangkapanku banyak maka langsung ku pindahkan mereka di toples kaca yang sudah kuisi air dan tak lupa kuhiasi dengan pasir dan tumbuhan di dalamnya. selain itu aku juga sering mengumpulkan serangga kecil seperti belalang, kumbang, ulat, dan binatang-binatang serangga lainnya, kemudian ku simpan dalam plastik lalu kuisi udara dengan karbon dioksida dari hembusan nafasku, dan apa yang terjadi,,,keesokan harinya binatang itu mati terbujur kaku di dalam gelembung plastikku,,,hahahahah.

Yah setidaknya itulah gambaran belasan tahun yang lalu, saat itu aku belum merasakan beban hidup, tidak merasakan ketegangan dan stress berlebih, tidak pernah frustasi dengan keadaan. Yang ada hanyalah tawa lepas dan terus bermain dan melakukan apa yang aku inginkan. 

Tapi sekarang usia ku sudah bertambah dan sudah berada di 20 keatas. Hidup di usia ini menjadi rumit dan sangat sering aku merasa lelah dan letih. Lelah dan letih bukan karena banyak bermain seperti waktu kecil dulu, tapi lelah dan letih karena tuntutan hidup yang begitu mengekang. Tawa lepas dan ceria tanpa batas sangat jarang ku rasakan di usia ini, karena aku sudah mulai menyadari aku tidak akan lagi menjadi orang yang dijaga seperti aku kecil dulu, akan tetapi aku akan menjadi orang yang menjaga seperti orang tuaku yang menjagaku dulu. 

Hidupku sekarang sudah dipenuhi target-target yang harus tercapai, dipenuhi jadwal-jadwal, dipenuhi dengan tugas yang menumpuk, dikelilingi oleh orang-orang yang sibuk, dan ditimpa oleh berbagai masalah yang tak pernah kurasakan saat aku kecil dulu. 

Jika waktu kecil, yang ada di dalam pikiranku adalah segala hal yang menyenangkan yang bisa ku lakukan. Tapi sekarang tidak, pikiranku sudah berubah, aku harus memikirkan apa pekerjaanku nanti?, dimana tempat tinggalku nanti?, bahkan aku sudah bisa memikirkan tentang kematianku, bagaimana dan apa yang akan terjadi setelahnya?. Semua tentang masa depan bukan tentang apa kebahagiaan yang sekarang.

Layaknya seorang yang berusia dua puluh tahunan, aku juga merasakan apa yang orang sering sebut dengan cinta. Cinta menjadikanku orang yang optimis, optimis di saat aku tau dia juga mencintaiku. Namun cinta juga kadang membuat aku pesimis, pesimis saat aku sadar bahwa aku bukanlah orang yang punya segalanya untuk diberikan kepadanya. Cinta juga membuatku menjadi bahagia, bahagia di saat aku bisa bersamanya. Tapi cinta juga bisa membuat aku sedih, sedih di saat aku harus rela jika suatu saat ia harus kulepaskan. Cinta bisa membuat aku semangat, semangat saat aku tau ternyata dia juga menunggu ku di sana. Tapi cinta juga kadang membuatku lemah, lemah di saat aku tau ternyata dia punya seseorang yang lebih spesial dari diriku.

Seperti orang dewasa yang lain, rasa empatiku juga ternyata sudah tumbuh saat ini. aku sudah bisa merasakan sedihnya orang yang harus berjuang mencari nafkah dengan berbagai pekerjaan yang sebenarnya sudah tak layak untuk dirinya. Aku bisa merasakan bagaimana dukanya ketika anak atau keluarga dari seseorang yang ditimpa sebuah penyakit yang mengharuskannya terbaring di rumah sakit. Bahkan sering aku merinding ketika menyaksikan video di internet mengenai semangat anak pedalaman dalam melanjutkan pendidikan. aku juga bisa perihatin dengan kondisi generasi penerus bangsa yang sedang mengalami krisis moral dan kehilangan karakter serta rusaknya akhlaq mereka. aku bisa kecewa dengan para wakil rakyat yang tidak menjaga amanah yang dititipkan kepada mereka.

Hari ini aku merasa banyak hal yang telah berubah. aku sadar betul hidup ini tidak akan selamanya sama. Ketika hari terus berganti, matahari terbit dan tenggelam, siang berganti malam, ketika itulah sikap, pikiran, perasaan, dan pengetahuan ku juga berubah.  masa kecil tidak selamanya akan ku rasakan, tawa lepas dan canda tanpa batas juga tidak akan terus aku lakukan. 

Frustasi dan stres ternyata adalah suatu gejala yang menyadarkanku bahwa sekarang bukanlah hari yang lalu. . Cinta yang labil memberi tahuku bahwa aku nanti akan perlu pendamping yang membuatku jadi orang yang optimis, bahagia dan bersemangat bukan orang yang pesimis, sedih dan lemah. Rasa empati dan peduli mengajarkanku bahwa peranku saat ini sudah berubah, bukan mejadi orang yang dijaga tetapi orang yang menjaga

Share: