Sabtu, 03 Juni 2017

AFI NIHAYA BELUM SIAP BERTEMPUR.



Afi Nihaya Faradisa hanyalah sebuah nama pena, nama aslinya adalah Asa Firda Inayah.
“Jadi di blog ini saya mesti tulis Afi, Nihaya atau Faradisa ni?, atau malah Asa, Firda... Inayah?,” tanya saya.
“Afi aja Mas,” jawab Afi.
“Oke, saya akan pakai nama Afi di tulisan ini.”
Nb: percakapan di atas adalah percakapan dalam mimpi.
***
Beberapa hari yang lalu, media televisi, koran cetak dan online, serta blog dan netizen cukup ramai memberitakan kisah Afi Nihaya Faradisa dengan statusnya yang ia tulis di media sosial.
Jika saya perhatikan, kisah Afi ini udah mirip plot cerita dalam sebuah novel, dari mulai eksposisi (Afi membuat status dan terkenal), insiden pemicu (Afi diisukan melakukan plagiat), klimaks (publik ramai membully Afi karena mereka yakin Afi melakukan plagiat), resolusi (ada pihak yang pro dan membela Afi), akhir (berita Afi tenggelam, digeser oleh berita final liga Champion).
Sebagai pengamat indie dan amatir yang berada di bawah naungan swasta, saya merasa harus ikut berpartisipasi dalam meramaikan kisah Afi ini. Kasian bila ketenaran Afi hanya berhenti sampai disini seperti kisah para eks selebritis yang mendadak terkenal tapi dengan sekejap pula hilang dari permukaan layar kaca; Norman Kamaru dan Udin Sedunia. Becanda...
Sebenarnya perjalanan Afi ini awalnya mulus tanpa hambatan, tetapi semakin kesini, ia semakin mendapatkan tekanan dan serangan dari pihak yang tentu saja tidak setuju dengannya, baik tidak setuju dengan konten statusnya maupun tidak setuju dengan tindakan yang dituduhkan kepadanya, yaitu memplagiat status media sosial.
Dan semenjak lahirnya isu plagiat itulah, kisah Afi mulai memasuki puncak klimaks dari sebuah cerita.
Yang akan coba kita ungkap adalah, “Apakah beberapa tulisan Afi di media sosial adalah hasil plagiat?.”
Untuk menjawab itu, saya akan merujuk berita yang sudah dipublikasi oleh Liputan6.com yang berjudul “Afi Nihaya dituduh Plagiat dari Akun Mita Handayani, Ini Faktanya.”
Mengapa saya memilih berita di Liputan6.com?. Karena berita di Liputan6.com sudah mengurutkan kejadiannya dari awal isu itu muncul, hingga timbulnya bantahan, bahkan sampai munculnya bantahan lagi terhadap bantahan isu tersebut.
Diceritakan disitu bahwa isu plagiat ini pertama kali dilempar oleh seorang netizen bernama Pringadi Abdi Surya. Ia membandingkan screenshoot status yang ada di facebook Mita Handayani dengan status yang ada di facebook Afi. Status tersebut bertemakan “agama kasih” dan “belas kasih agama” yang kurang lebih sama. Pringadi juga menautkan satu link yang bisa diklik sebagai bukti bahwa apa yang ia posting itu benar adanya.
Tapi ketika link itu dibuka oleh Marius Gunawan, ternyata link tersebut tidak bisa dibuka. Usut punya usut, ternyata Marius kehabisan kuota. Setelah ia mengisi kembali kuotanya di konter samping rumah dan ia kemudian mencoba membuka kembali link yang dibagikan Pringadi, ternyata link itu memang benar tidak bisa dibuka. Dengan segera Marius Gunawan membantah tulisan Pringadi Abdi Surya dengan mengatakan bahwa link yang dibagikan itu adalah palsu. Tuduhan Pringadi terbantahkan.
Bagian Marius kehabisan kuota di tolong di sensor!.
Bagai menyiram api dengan air kencing, hehehe... akun Mita Handayani langsung memberikan klarifikasi bahwa ia memang pernah menulis tautan yang sama dengan yang dibuat oleh Afi. Jika benar, maka Afi terbukti telah melakukan plagiat. Tapi timbul lagi pertanyaan, Mita Handayani benar nggak ni?. Jangan-jangan klarifikasinya hanya ngaku-ngaku aja?.
Afi sendiri pada acara “SAPA INDONESIA” di Kompas TV mengatakan “tidak” pada plagiat. Maksudnya... Afi tidak melakukan plagiat.
Huft........pusing pala’ Beruang.
Namun, saat saya menulis tulisan ini dan mengecek facebooknya Afi sekitar siang hari tadi (3 Juni 2017), saya menemukan status baru Afi yang intinya masih kurang bisa saya tangkap. Apakah status itu adalah pengakuan Afi terhadap tindakan plagiat yang ia lakukan, ataukah itu pembelaan bahwa dirinya melakukan suatu yang normal-normal saja?.
Aghhhh....makin pusing pala’ Beruang.
Itulah sekilas kisah menegangkan dan kontroversial dari seorang Afi. Jika kita mengikuti kisahnya dari awal hingga sekarang, kita serasa sedang membaca kisah seorang detektif saat memecahkan kasus pembunuhan. Penuh tanda tanya, misteri, dan hal yang tidak terduga.
Apakah Afi benar-benar melakukan plagiat, apakah isu itu hanya ujaran kebencian semata, atau mungkinkah ada konspirasi Yahudi di balik semuanya?.
Kita tidak tahu. Yang jelas, jangan lupa buka puasa saat azan Magrib tiba. Bersambung.....
***
Terancamnya Kebebasan Berkeyakinan dan Berpendapat.
Jujur, saya tidak sependapat dengan status yang berjudul “warisan” di media sosialnya Afi. Tapi saya lebih tidak setuju lagi dengan ujaran kebencian, kekerasan, bullyan, bahkan sampai ancaman pembunuhan kepada Dek Afi hanya karena status yang ada di media sosialnya.
Beberapa kali Afi mengatakan, misalkan pada saat wawancara dengan Metro TV, juga saat acara Talkshow Rosi di Kompas TV, ia mengatakan bahwa ada yang mengancam untuk membunuh dirinya karena status yang ia tulis di media sosial.
Are You Serious?.
Bagi saya, status Afi di media sosial itu masih dalam taraf yang aman untuk memperlihatkan kebebasan berfikir. Tidak ada orang yang dihina di status tersebut, tidak ada nada-nada provokasi ngajak kelahi, juga tidak ada nama saya di tag dalam statusmu Dek, hmmm...
Dan andaipun ada hal yang tidak anda sepakati dalam status tersebut, tidak bisakah anda menanggapinya dengan cara yang sopan dan elegan, bukan malah dengan cacian dan ujaran kebencian, apalagi ancaman pembunuhan.
Saya tahu, konten dari statusnya Afi memang agak sensitif jika dilempar ke ranah publik. Dan ketika saya perbesar dengan mikroskop, sepertinya tulisan itu memang mengarah pada liberalisme, pluralisme, dan fatalisme.
Ada kalimat-kalimat yang memperlihatkan kebebasan berfikir tanpa muatan dalil agama, ada nada-nada ingin mengatakan bahwa semua agama membawa kepada kebaikan dan kebenaran, dan pada tulisan berjudul “warisan”, saya merasa ada kepasrahan dari seorang Afi dalam melihat agama yang ia peluk. “Agama saya Islam, nasib saya tidak bisa diubah, kalau diubah susah, itulah warisan”. “Anda bukan Islam ya nasib anda, susah mau diubah, itu adalah warisan”. Begitulah kira-kira.
Dan sangat bisa dipastikan, statement seperti itu akan memancing kelompok yang sedari awal memang anti terhadap liberalisme dan pluralisme agama. Kelompok itu akan meluncur dari sarangnya untuk menyenggol Dek Afi, kemudian mengajaknya bersepeda, setelah itu akan disusul dengan pasukan-pasukan lainnya.
Memang begitulah adanya kelompok-kelompok di Indonesia ini, saling menyerang hanya karena beda pemikiran dan keyakinan. Jika mengkritik dengan cara yang sopan dan elegan sih wajar, tapi apabila sudah berkomentar buruk, membenci, bahkan sampai mengancam untuk membunuh... Nah, pada titik ini saya sangat tidak setuju.
Tidak bisakah kita berdialog, berdiskusi, saling menasehati, yang semuanya dilakukan sambil makan pecel ayam?. Ataupun kalau memang tidak sependapat dengan sesuatu yang berseberangan dari keyakinan kita ya katakan, atau jelaskan lewat tulisan, sampaikan secara sopan dan elegan. Bukan dengan paksaan, pembubaran paksa, ujaran kebencian, kekerasan, apalagi sampai ancaman pembunuhan.
Jikapun kita berbeda paham... ya sudahlah. Tidak mungkin semuanya seragam, pasti ada perbedaan, tinggal bagaimana kita saling menghargai dan hidup bersama secara toleran. Selesai.
***
Benarkah Agama adalah Warisan?.
Sudah saya sampaikan di awal, bila memang tidak sepaham dengan sesuatu yang berseberangan dengan keyakinan kita, maka sampaikan dengan sopan dan elegan bukan dengan kekerasan, makian, apalagi sampai melemparkan ancaman pembunuhan. Pendapat dilawan dengan pendapat, tulisan dilawan dengan tulisan.
Oke Dek Afi, izinkan saya untuk tidak sependapat dengan Dek Afi.
Ya. Saya sendiri sebenarnya tidak sependapat dengan tulisan di media sosial Afi, terutama pada bagian yang berjudul “warisan”.
Mengapa?.
Karena menurut saya agama memang bukan warisan. Warisan adalah sesuatu yang dibagikan sesuai dengan kadar yang harus didapatkan seseorang. Seseorang yang diberi warisan tidak bisa menambah dan tidak bisa mengurang. Agama atau keyakinan tidak seperti itu, dia bisa bertambah dan berkurang, bahkan bisa berubah.
Okelah ada hadis yang mengatakan bahwa anak lahir secara fitrah kemudian orang tuanya menjadikan dia Yahudi, Nasrani dan Majusi. Tapi saat dewasa, orang tua tidak lagi menjadi sumber utama dalam membentuk keyakinan seseorang manusia.
Saat dewasa, kita akan bersentuh dengan lingkungan luar, bercengkerama dengan banyak orang, melihat dengan sudut pandang yang luas tentang sebuah keyakinan, pengetahuan bertambah baik dari guru maupun dari bacaan. Dan di saat dewasa pula, kegelisahan tentang “Darimana saya” dan “Kemana tujuan hidup saya” akan tumpah dan bersarang di dalam pikiran manusia.
Saat itulah kotak keyakinan sebagai warisan meledak, ditumbuk oleh lingkungan dan pengetahuan yang kita dapatkan. Makanya ada banyak orang yang berpindah agama dari satu agama ke agama lain, berpindah ideologi dari satu ideologi ke ideologi lain, berpindah kelompok dari satu kelompok ke kelompok lain, berpindah sekte dari satu sekte ke sekte lain, berpindah paham dari satu paham ke paham lain, dan itu terus berproses hingga Tuhan yang menghentikan sendiri pencarian kita.
Contoh yang mudah bagi umat Islam yaitu kisah Nabi Ibrahim. Ayahnya pembuat dan penyembah berhala, Nabi Ibrahim lahir di lingkungan penyembah berhala. Tapi apakah itu membuatnya menjadi penyembah berhala ketika dewasa?. Tidak. Ia menyembah Allah SWT.
Salman Al-Farisi, ia berpindah dari agama Majusi (penyembah Api) ke Nasrani dan kemudian memeluk Islam. Ia beragama bukan karena warisan, tapi karena pencarian dan terutama karena hidayah dari Allah SWT.
Oke, contoh lain adalah Kareen Armstrong, penulis terkenal yang membahas isu lintas agama. Awalnya ia adalah biarawati Katolik Roma. Keluar dari biara, setelah itu meneliti agama monoteistik di Timur Tengah dan agama Hindu, Budha. Pada saat ditanya “apa” keyakinannya?. Ia mengatakan bahwa ia freelance monotheist (meyakini Tuhan Esa tanpa agama). Pada tahun 2000, ia mengatakan tertarik dengan ajaran spiritual Budha. Keyakinannya terus berubah dan tentu saja bukan warisan.
Itu hanya contoh besar, contoh kecil ada banyak di sekitar kita.
***
Afi Belum Siap Bertempur.
Oke kita sekarang lompat ke permasalahan lain.
Lagi-lagi ini adalah pendapat saya, jika anda tidak setuju, silahkan buat pendapat lain. Kritik saya secara elegan!. Jangan bully saya!, kasian... udah jomblo, dibully lagi.
Oke, kita mulai.
Pilkada DKI Jakarta tidak hanya sukses memunculkan calon gubernur dan wakil gubernur baru, tapi juga sukses mengkotakkan sebagian manusia Indonesia dalam kubu yang saling berlawanan. Sebut saja kubu A dan kubu B. Kubu A berpaham “Muslim haram pilih pemimpin kafir”. Kubu B berpaham “Tidak ada istilah pemimpin kafir dalam demokrasi, semua pemimpin sama di mata demokrasi tanpa memandang suku, agama dan ras, jadi tidak ada salahnya pilih pemimpin non-muslim”.
Ada pula kubu C, yang tidak ingin masuk ke dalam gesekan antar dua kubu tersebut, tapi diam-diam nyoblos dan punya pilihan terhadap gubernur DKI Jakarta. Di dalam kubu C ini ada yang memilih berdasarkan kualitas pemimpin, ada pula yang memilih berdasarkan agama, ras dan suku tadi. Tapi kubu C tidak bergerak selincah kubu A dan B, mereka memilih tenang dan damai.
Ternyata gesekan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, akan tetapi meluas sampai ke wilayah lain di negara Indonesia. Perseteruan ini tidak hanya terjadi di dunia nyata saja, tapi juga meluas sampai ke dunia maya. Dan tidak hanya terjadi saat pilkada DKI Jakarta saja, tapi juga masih tersisa hingga sekarang.
Dan Afi adalah salah satu rakyat Indonesia yang merasakan perseteruan tersebut, hingga kegelisahan yang ia rasakan meledak menjadi sebuah status yang berjudul “warisan”.
Oke, sebelum kita masuk pada wilayah yang lebih sensitif, perlu saya jelaskan lagi bahwa kubu yang akan saya bahas adalah kubu A dan kubu B yang masih bergerilya hingga sekarang di media sosial dan saling menyerang satu sama lain. Jadi jika anda dulu pernah jadi kubu A atau B namun saat pilkada DKI Jakarta selesai anda tidak lagi terikat dengan kubu A atau B, maka anda bukan yang saya maksud, berarti anda sudah masuk kubu C, kubu yang memilih untuk menyudahi perseteruan.
Nah, pada kasus Afi ini, saya melihat adanya tindakan media yang terlalu berlebihan dalam meninggikan Afi. Media terlalu grasak-grusuk dan gegabah untuk mengangkat Afi ke media massa dan layar kaca.
Padahal yang dilakukan Afi hanyalah menulis status di media sosial. “Status di media sosial” itu masih sangat rentan men..., rentan plagiat dan sebagainya. Afi juga belum menelurkan karya berupa buku yang derajatnya bisa dipertanggungjawabkan.
Kecuali jika Afi sudah melakukan pergerakan secara rill di lapangan seperti yang dilakukan Malala Yousafzai yang berani meneriakkan hak pendidikan di bawah ancaman Taliban (bahkan ditembak saat mencoba bersekolah), atau seperti Bunda Teresa yang bergerak untuk mencukupi kebutuhan orang miskin dari yang termiskin di kota Kalkuta India.
Oleh karena itu, media seharusnya jangan terlalu gegabah untuk mengangkat Afi setinggi itu, menyandingkannya dengan Malala, mengatakan Afi pembawa kedamaian dan pembela suara minoritas. Terlalu dini untuk seorang Afi dipuja seperti itu. Bisa saja ia akan terbebani dengan pujian dan gelar yang disematkan kepadanya.
Bahkan saya melihat Afi saat ini ditarik untuk masuk ke salah satu kubu yang sudah saya jelaskan di atas sebelumnya. Sehingga Afi menjadi ikon untuk kubu tersebut, yaitu kubu B. Dan dapat kita ketahui, gesekan antara kubu B dan kubu A masih terjadi hingga sekarang.
Dan sangat bisa kita tebak, Afi kemudian diserang habis-habisan oleh kubu A ketika diangkat setinggi-tingginya oleh kubu B.
Saya mengibaratkannya seperti ini. Kubu B, sekali lagi kubu B ya, bukan kubu C yang berusaha tenang dan netral, kubu B ini melemparkan Afi ke sebuah arena pertarungan yang disitu sudah didiami oleh para jenderal dan kesatria dari kubu A.
Di arena itu, Afi diserang dan dicabik habis-habisan, sementara jenderal dan kesatria dari kubu B menyaksikan dari jarak jauh sambil berteriak untuk menyemangati Afi agar mampu bertahan dalam menjalani laga yang tidak seimbang itu.
Sudah dapat gambarannya?.
Ya, betul sekali. Afi hanyalah korban dari kegaduhan antara kubu A dan kubu B. Seharusnya ia tidak berada di arena pertarungan. Dia masih belum layak bertarung, seharusnya ia lebih banyak berlatih dulu hingga saatnya ia layak menjadi kesatria. 
SUMBER GAMBAR: HISTORYCOLLECTION.CO

Bahanya adalah; jika Afi tidak kuat dengan serangan yang diluncurkan oleh kubu A, maka dapat dipastikan, Afi akan stres menghadapi bullyan, ujaran kebencian, dan sebagainya.
Itulah pendapat saya.
***
Afi masih harus bertumbuh, harus banyak berlatih dan belajar lagi, dan masa depannya masih panjang. Sangat berbahaya bila di masa muda ini ia sudah dilempar ke arena pertarungan tadi. Niat kubu B mungkin baik, mereka mengangkat Afi setinggi-tingginya untuk menyemangati Afi agar tetap menyuarakan pendapatnya, tapi dampaknya juga beresiko; Afi bisa terhenti pertumbuhannya karena bullyan, ujaran kebencian dan bahkan ancaman pembunuhan.
Sekian.
Share:

Kamis, 01 Juni 2017

MENDULANG JUTAAN RUPIAH DARI IKAN LELE



Ketika saya melihat tulisan di blog saya, aduhai... terutama sepanjang satu tahun terakhir ini, hampir kebanyakan tulisannya berangkat dari keresahan, dan bisa ketebak ujungnya, yaitu penuh dengan kepesimisan.
Saya pikir tidak baik bila pikiran kita (saya selaku penulis maupun anda selaku pembaca) selalu dijejali dengan sikap pesimis. Oleh karena itu, hari ini saya mencoba untuk berbagi hal yang positif, sesuatu yang semoga saja bisa menginspirasi, memotivasi dan membangkitkan rasa optimis kita.
Ketika saya menentukan kata kunci “inspirasi”, “motivasi” dan “optimis”, maka salah seorang yang ada di benak saya adalah teman saya yang bernama Kurniaji Ramadhan atau yang biasa saya panggil Aji. Ia adalah seorang pengusaha lele yang sekarang sudah punya omzet 25 juta sekali panen (4 bulan) atau 6 juta perbulan. 
sumber gambar : baabun.com
Aji dan kolam berenangnya, eh salah... kolam lelenya.

Penghasilan itu ditargetkan akan terus bertambah mengingat Aji sudah mulai menekan biaya produksi dengan cara membuat pakan (makanan) sendiri untuk lele peliharaannya. Bahkan ia berencana akan menjual pakan buatannya itu kepada pengusaha lele lainnya serta membuka pengolahan lele sendiri, sehingga ketika ia panen, ia tak perlu lagi menjualnya kepada pengepul di pasar.
***
Bertemu Aji.
Saya bertemu dengan Aji pada pertengahan tahun 2015, saat ada kegiatan KKL (kuliah kerja lapangan) yang diadakan oleh pihak kampus dan berlokasi di kecamatan Paloh Kabupaten Sambas.
Dalam kegiatan KKL, setiap jurusan harus punya kegiatan khas jurusannya masing-masing. Ternyata waktu itu jurusan Ekonomi Islam adalah jurusan yang paling sulit untuk mengadakan kegiatan khas jurusan mereka, yaitu kegiatan yang di dalamnya terkait dengan dunia ekonomi.
Namun Aji yang kebetulan berkedudukan sebagai ketua kelompok sekaligus mahasiswa jurusan ekonomi mencetuskan sebuah ide untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ia mengusulkan untuk mengadakan seminar kewirausahaan.
Awalnya kawan-kawan masih ragu. Bagaimana tidak?, seminar kewirausahaan men, di sebuah dusun di pinggiran kota Sambas lagi. Tentu banyak hal yang harus dipertimbangkan, seperti tempat, konsumsi, fasilitas, peserta, dan tentu saja materi dan pematerinya.
-
“Ji, kalau kau mau ngadakan seminar wirausaha, pematerinya siapa?,” tanya kawan-kawan.
“Eeeee...santai jak, aku pematerinya,” jawab Aji sambil garuk-garuk badan karena gatal.
Kawan-kawan tampak ragu, apalagi saat melihat tingkah Aji yang saat itu sedang tengkurap menghadap laptop tanpa mengenakan baju dan masih belum mandi pagi.
“Materinya apa Ji?.”
“Budidaya lele.”
“Emang kau bisa?.”
“Bisa.”
Saat mendengar kata “bisa” dari mulut sang ketua, keraguan yang hinggap di permukaan wajah kawan-kawan sedikit memudar. Lagipula mereka sudah tidak lagi berpikir acara ini sukses atau tidak, yang penting jurusan Ekonomi Islam sudah mengadakan kegiatan khas jurusannya.
***
Pada saat hari H, ternyata kegiatan yang sudah direncanakan berjalan lumayan lancar dan sukses. Masyarakat cukup antusias untuk datang, walaupun saat mendengarkan seminar ada yang menguap karena ngantuk.
Bagi saya, raut letih yang terpancar dari para peserta begitu wajar, mengingat warga di desa tersebut bekerja berat di kebun atau persawahan pada siang harinya, sehingga malam hari seperti saat itu adalah waktunya mereka untuk beristirahat, bukan untuk menonton seminar. Tapi dengan datangnya warga ke acara seminar saja kami sudah sangat bersyukur.
Di seminar itu Aji menyampaikan materi tentang budidaya lele, mulai dari cara pembuatan kolam, pemeliharaan bibit, sampai cara panen dan penjualan. Melihat ia menyusun materi dan menyampaikannya di hadapan warga membuat saya yakin bahwa ia memang sudah berpengalaman dalam mengembangkan usaha lele.
Dari situ saya mulai tertarik untuk mengulik kisah dan perjuangan Aji dalam mengembangkan usaha lelenya. Bahkan saya juga beberapa kali memantau perkembangan usahanya. Kisahnya mulai dari awal hingga sekarang sudah saya susun, dan akan saya ceritakan sedikit di bawah ini.
Bolehlah kiranya saya beri judul kisah Aji ini dengan judul yang sedikit lucu, yaitu:
Aji Sang Pencinta Lele.
Peristiwa yang membawa Aji berani bergerak untuk menjadi pengusaha lele berawal dari seminar wirausaha yang ia ikuti bersama teman-temanya yang berada satu jurusan dengannya. Setelah seminar, pemateri seminar meminta peserta seminar untuk membuat kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan sepuluh orang untuk membuat usaha sendiri.
Tak perlu waktu lama, Aji dan kawan-kawan pun langsung membuat kelompok. Mereka sepakat untuk membuka usaha jamur tiram.
Tapi entah mengapa, dalam pelaksanaannya, Aji tak pernah diajak oleh kawan-kawannya dalam menjalankan usaha yang telah disepakati itu. Teganya kawan kau ye Ji. Gara-gara itu ia kecewa dan membuat usaha sendiri, yaitu usaha lele.
Awalnya ia bingung, kolam belum punya, mau usaha lele dimana?. Mau pelihara di bak mandi, takut menganggu orang mandi. Mau pelihara di lobang kloset, takut lelenya mati keracunan.
Akhirnya ia berpetualang di belakang rumah sambil membawa bekal nasi yang sudah ia masukkan ke dalam kotak makanan. Setelah menjelajah sekitar beberapa langkah, ia berhasil menemukan tempat yang pas untuk memelihara lele, tempat itu adalah sumur tua yang sudah tidak lagi terpakai.
Ia pun menciduk air di dalam sumur tersebut dan mencicipi rasanya dengan lidah. “Emmmm...rasanya tidak asin, berarti ini pas untuk kolam lele sementara.”
Di sumur itulah ia menebar 300 bayi lele yang tidak berdosa. Dan dari usaha pertama itu ia berhasil panen 30 kilogram lele. Hasil penjualan 30 kilogram itu ia putar lagi menjadi modal untuk membuat kolam terpal pengganti sumur tua.
***
Untuk pembuatan kolam terpal, ia melakukannya sendiri dengan menyisihkan waktu satu jam sebelum kuliah (6-7 pagi) dan satu jam setelah kuliah (4-5 sore). Ia mampu membuat tiga kolam lele dalam waktu satu bulan.
Tiga kolam itu ia isi dengan dua ribu bayi lele. Merasa yakin bayi-bayi lele itu bakal tumbuh sehat dan kuat, ia membuat kolam lagi dengan ukuran 2 x 4 meter dan menambah lima ribu bayi lele. Sehingga total ada tujuh ribu bayi lele untuk kolam terpal pertama.
Keesokan harinya, lima ribu bayi lele tambahan menampakkan gejala aneh (ada semacam serabut di sekujur tubuhnya). Apakah serabut itu menandakan bahwa si bayi sudah balig (dewasa)?, saya tidak tau. Yang jelas, melihat kejadian itu Aji mulai panik.
Keesokannya lagi, lima ribu bayi lele yang bergejala aneh itu mati serempak. Aji merasa bersalah akibat kematian itu. Ia merasa seperti Adolf Hitler sang pemimpin Nazi yang membunuh enam juta orang Yahudi pada peristiwa Holocaust. Gara-gara kejadian itu ia rugi satu juta rupiah.
Sementara itu, dua ribu bayi lele yang masih tersisa juga mengalami nasib yang hampir sama. Perharinya ada sekitar sepuluh lele yang mati. Akhirnya, dari dua ribu bayi lele itu Aji hanya mampu panen lele dewasa sebanyak 50 kilogram. Dari hasil itu ia hanya mampu membalikkan modal awal dua ribu bayi lele, tidak ada keuntungan.
Kejadian itu begitu menyedihkan bagi dirinya. Galaunya mungkin hampir sama dengan galau akibat ditinggal pacar saat lagi sayang-sayangnya.
Untungnya Aji punya orang dekat yang selalu memberinya semangat, yaitu Bapaknya sendiri. Ia selalu curhat dengan Bapaknya, dan Bapaknya selalu memberinya motivasi untuk segera move on.
***
Ia kemudian bangkit dan belajar untuk memperbaiki kesalahan. Ia mendatangi pamannya yang sudah berpengalaman puluhan tahun memelihara lele. Selain itu ia juga memanfaatkan sumber-sumber referensi dari internet untuk menanggulangi kematian lele.
Setelah belajar itulah, usahanya sedikit demi sedikit membaik. Tidak ada lagi lele yang mati serentak seperti sebelumnya. Kalaupun ada lele yang mati, itu lebih dikarenakan ia tidak bisa beradaptasi dengan perubahan zaman serta tidak pandai bergaul dengan lele lainnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Charles Darwin, “Yang paling bisa bertahan hidup adalah yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan.”
Setelah lelenya sehat, ia pun membangun kolam terpal tambahan. Dari kolam tambahan itu ia  berhasil panen 700 kilogram dengan untung bersih tujuh juta rupiah dalam satu kali panen (empat bulan). Jadi dalam satu bulan ia bisa mendapatkan untung sekitar satu juta lebih.
***
Keuntungan yang ia dapatkan ia putar lagi untuk modal pembuatan kolam semen. Perjalanan usaha masih belum mulus, ternyata dari kolam semen itu menimbulkan masalah lanjutan yaitu bencana kematian lagi pada lele. Namun kali ini mental Aji sudah lebih baik. Ia segera mencari penyebabnya dan memperbaiki kesalahan yang ada.
Di tengah perjalanan pula, ibunya sempat tidak sepaham dengan kuputusan Aji yang lebih memilih untuk mengurusi usaha lelenya daripada mencari pekerjaan yang layak bagi seorang sarjana.
Menurut ibunya, sangat tidak wajar seorang sarjana bekerja mengurusi kolam lele. Ibunya menyarankan Aji untuk mencari kerja yang layak seperti bekerja di instansi pemerintah atau perusahaan, dan urusan lele sebaiknya diserahkan saja kepada orang lain.
Namun Aji tetap teguh pada pendiriannya, yaitu mengurusi usaha lele. Meskupun ibunya masih belum ridho, tapi Aji terus berjalan. Ternyata mental Aji adalah mental malin kundang.
***
Sekarang, usahanya terus berkembang. Aji sudah punya 18 kolam semen dengan keuntungan 25 juta setiap kali panen (4 bulan) atau enam juta perbulan. Saat ini ia sudah membuat pakan sendiri untuk menekan biaya produksi.
Untuk rencana ke depan, ia akan menjual pakan yang ia buat dengan target keuntungan sebesar tiga juta per bulan (untuk penjualan pakan). Selain itu, ia juga berencana untuk mengolah sendiri lele yang ia pelihara, yaitu dengan cara memproduksi kripik, nugget, dan abon yang semuanya berasal dari lele.
Bahkan ia juga hendak memanfaatkan semua bagian dari lele, mulai dari bagian kepala sampai pada tulang lele, seperti yang terjadi di Youtube-Youtube. Semua perencanaan itu bisa mencapai keuntungan hingga lima juta rupiah per bulan. Jadi, selain keuntungan pemeliharaan lele yang berkisar enam juta per bulan, juga akan ditambah dengan keuntungan lain sebanyak delapan juta per bulan.

Aji sedang memanen ikan lelenya. Jika anda tidak melihat Aji, itu berarti mata anda masih normal.
 
Proses ganti air. Anda bisa melihat seekor kucing di atas kolam yang sedang menunggu salah seekor ikan lele melompat untuk disantap.
***
Pada saat saya bertanya kepada Aji, “Hal apa yang kau dapatkan dari pengalaman kau ini, yang dari pengalaman ini bisa kau bagikan kepada kawan-kawan lainnya?.”
Ia menjawab, “Masa muda ini adalah masanya untuk membangun masa depan. Cari pengalaman sebanyak-banyaknya yang itu berguna untuk masa depan. Tak apa sakit-sakit dulu, tak apa bersusah-susah dulu, nanti kita akan merasakan nyamannya.”
Saat menjawab hal tersebut, saya kira ia akan berdendang seperti Rhoma Irama, “Masa muda...masa yang berapi-api. Yang maunya menang sendiri... walau salah tak peduli... Darah muda...”

***
Saya selalu mengibaratkan kesuksesan itu seperti bangunan rumah besar lengkap dengan pagar, halaman dan pernak-perniknya yang semuanya terbuat dari lego. Anda tau lego?. Lego adalah alat permainan pasang-susun yang terbuat dari plastik dan bisa disusun menjadi bentuk apa saja, entah itu mobil, kereta api, kapal, rumah dan banyak lainnya.
sumber gambar: ibudanbalita.com

Bila sukses itu adalah sebuah rumah jadi yang dibuat dari lego, maka kepingan-kepingan lego itu adalah modal untuk membangun kesuksesan kita (entah itu materi, inovasi, kreativitas, motivasi, ilmu, orang terdekat, dsb). Sementara proses adalah kegiatan kita menyusun satu demi satu kepingan lego sehingga menjadi rumah (kesuksesan).
Kepingan Lego. sumber gambar: mypecunia.com

Lego (modal kepingan kesuksesan) itu kita susun satu per satu. Pasti di tengah proses penyusunan kita akan menemukan kesulitan, “Ini mau disusun gimana?,” “Mau diletakkan dimana?,” “Setelah ini gimana?,” dan sebagainya. Sehingga tidak jarang pula kita akan membongkar kembali bangunan kesuksesan kita dan memulainya dari awal.
Namun dari kesalahan dan kegagalan itu kita akan mendapatkan pengalaman baru, belajar sesuatu yang baru. Ketika kita bertemu masalah yang pernah kita hadapi, kita akan melewatinya dengan tersenyum, karena lobang itu sudah pernah kita alami dan kita sudah belajar dari hal itu untuk kemudian melompatinya dengan santai. Begitu terus hingga lego yang kita susun menjadi sebuah rumah (kesuksesan).
Semua proses itu terus berulang, salah – bongkar - dapat pelajaran baru - pasang kembali, salah – bongkar - dapat pelajaran baru - pasang kembali, begitu terus sehingga bangunan rumah (kesuksesan) itu pun berdiri dengan megahnya.
Dari perumpamaan rumah lego itu saya selalu belajar dua hal:
Pertama, sukses itu perlu proses. Tidak ada kesuksesan yang instan.
Kedua, setiap kegagalan akan memberikan kita pelajaran. Orang yang bermental sukses akan mengambil pelajaran itu, dan bangkit kembali untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya, dengan itu ia akan lanjut pada tangga berikutnya. Sekian.
***

Semoga tulisan kali ini lebih bermanfaat dari tulisan sebelumnya dan salam Ramadan.

Share: